Rayon PMII
Mahbub Djunaidi UNISDA
Mengenal sejarah, nilai, perjuangan, dan perjalanan kaderisasi Rayon Mahbub Djunaidi Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan.
Rumah Kaderisasi dan Pergerakan
Rayon Mahbub Djunaidi merupakan salah satu ruang kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di lingkungan Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan.
Rayon menjadi ruang bertemunya mahasiswa untuk belajar, berdiskusi, berproses, berorganisasi, dan mengembangkan kepedulian terhadap persoalan keislaman, kebangsaan, kemahasiswaan, serta masyarakat.
Sejak berdiri pada 23 April 2006, Rayon Mahbub Djunaidi terus berupaya menjaga tradisi intelektual, kaderisasi, dan pengabdian sebagai bagian dari perjalanan panjang PMII di UNISDA.
Sejarah Rayon Mahbub Djunaidi
Menelusuri perjalanan Rayon Mahbub Djunaidi sejak kelahirannya hingga menjadi ruang kaderisasi dan pergerakan mahasiswa di UNISDA.
Berdirinya Rayon Mahbub Djunaidi
Rayon Mahbub Djunaidi berdiri sebagai bagian dari ikhtiar membangun ruang kaderisasi mahasiswa PMII di lingkungan Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan.
Menumbuhkan Tradisi Kaderisasi
Rayon berkembang menjadi ruang belajar bersama melalui proses kaderisasi, diskusi, kajian, pelatihan, dan berbagai aktivitas yang membentuk karakter kader.
Merawat Nalar Kritis
Tradisi membaca, berdiskusi, menulis, dan mengkaji persoalan sosial menjadi bagian penting dalam membangun kader yang memiliki daya pikir kritis dan konstruktif.
Bergerak Bersama Masyarakat
Kaderisasi tidak berhenti di ruang kampus. Nilai pergerakan diterjemahkan melalui kepedulian sosial, pengabdian, advokasi, dan keterlibatan kader dalam kehidupan masyarakat.
Melanjutkan Estafet Pergerakan
Rayon Mahbub Djunaidi terus beradaptasi dengan perubahan zaman dengan tetap menjaga nilai kaderisasi, tradisi intelektual, keislaman, kebangsaan, dan pengabdian.
Mengapa Mahbub Djunaidi?
Nama Mahbub Djunaidi menjadi identitas yang membawa semangat intelektual, keberanian berpikir, ketajaman tulisan, dan keberpihakan terhadap nilai kemanusiaan.
Nama tersebut menjadi pengingat bahwa kader pergerakan tidak hanya dituntut aktif dalam organisasi, tetapi juga harus memiliki kemampuan membaca realitas, menyampaikan gagasan, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
"Kaderisasi adalah proses panjang untuk membentuk manusia yang mampu berpikir, bergerak, dan memberi arti."
Demisioner Ketua Rayon dari Masa ke Masa
Para jajaran demisioner ketua rayon yang telah mendedikasikan waktu serta ilmunya dalam menuntun perjalanan Rayon Mahbub Djunaidi.
Sahabat Faizin
Ketua Rayon ke-1
Sahabat Kholis
Ketua Rayon ke-2
Sahabat Taufikur
Ketua Rayon ke-3
Sahabat Edi Susilo
Ketua Rayon ke-4
Sahabat Febri Nugroho
Ketua Rayon ke-5
Sahabat Adi Saputro
Ketua Rayon ke-6
Sahabati Nuri
Ketua Rayon ke-7
Sahabat Alif Rama
Ketua Rayon ke-8
Sahabat M. Afifuddin
Ketua Rayon ke-9
Sahabat Okky Novian
Ketua Rayon ke-10
Sahabat Hanif
Ketua Rayon ke-11
Sahabati Alfi
Ketua Rayon ke-12
Sahabat Ruddy
Ketua Rayon ke-13
Sahabat Alawy
Ketua Rayon ke-14
Sahabat Abbyu
Ketua Rayon ke-15
Sahabat Ahsan
Ketua Rayon ke-16
Sahabat Amar
Ketua Rayon ke-17
Sahabati Rani
Ketua Rayon ke-18
Sahabati Herla
Ketua Rayon ke-19
Sahabat Beni
Ketua Rayon ke-20
Sahabat Habibi
Ketua Rayon ke-21
Nilai yang Menjadi Napas Pergerakan
Rayon bukan sekadar tempat berkumpul. Rayon merupakan ruang pembentukan karakter, intelektualitas, solidaritas, dan keberanian kader untuk mengambil peran dalam kehidupan.
Tradisi Intelektual
Membaca, berdiskusi, menulis, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis sebagai budaya kader.
Keislaman
Menjaga nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah sebagai landasan dalam berpikir dan bergerak.
Kebangsaan
Membangun kesadaran kebangsaan dan kepedulian terhadap persoalan sosial serta masa depan Indonesia.
Solidaritas
Merawat hubungan antaranggota dan kader dengan semangat kebersamaan, gotong royong, dan kekeluargaan.
Pengabdian
Menjadikan ilmu, pengalaman, dan kemampuan kader sebagai sarana memberi manfaat bagi masyarakat.
Kepemimpinan
Menyiapkan kader yang mampu mengambil tanggung jawab, memimpin perubahan, dan memberikan solusi.
Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh
Tiga nilai tersebut menjadi gambaran tentang bagaimana kader diharapkan mampu menyatukan kedalaman spiritual, ketajaman intelektual, dan tindakan nyata dalam kehidupan.